Faktor – Faktor Pemilihan Profesi Akuntan

Check

A. LANDASAN TEORI

          Pemilihan profesi ini berhubungan dengan teori motivasi, yakni teori pengharapan (expectancy theory) yang merupakan kekuatan dari kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu bergantung pada kekuatan pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh output tertentu dan tergantung pada daya tarik output tersebut bagi individu itu. Motivasi berasal dari motivation yang berarti dorongan, adanya alasan untuk melakukan sesuatu, atau perilaku agar tercapainya tujuan.

          Robbins (2001) mengemukakan sikap seseorang terbentuk dari tiga komponen yaitu cognitive component, emotional component, dan behavioral component. Cognitive component merupakan perasaan yang bersifat emosi yang dimiliki seseorang untuk menyukai sesuatu. Emotional Component adalah apabila seseorang menyukai sesuatu, maka ia akan cenderung untuk mendapatkannya. Behavioral component merupakan kegiatan untuk bertindak secara lebih khusus dalam merespon kejadian dan informasi dari luar, sehingga seseorang akan termotivasi untuk menjalankan tingkat usaha yang tinggi apabila ia meyakini bahwa upaya tersebut akan menghantarkannya ke suatu kinerja yang lebih baik.

          Penilaian kinerja yang baik akan mendorong imbalan organisasi seperti bonus, kenaikan penghargaan finansial atau promosi. Dan imbalan akan memenuhi sasaran pribadi karyawan tersebut. Oleh karena itu, teori berfokus pada tiga hubungan : (Robbins : 2001)

  1. Hubungan upaya-kinerja. Probabilitas yang dipersepsikan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah upaya tertentu akan mendorong kinerja.
  2. Hubungan kinerja-imbalan. Sampai sejauh mana individu itu meyakini bahwa berkinerja pada tingkat tertentu akan mendorong tercapainya kinerja yang diinginkan.
  3. Hubungan imbalan-sasaran pribadi. Sampai sejauh mana imbalan organisasi memenuhi sasaran atau kebutuhan pribadi individu serta potensi daya tarik imbalan bagi individu.

          Mahasiswa mempunyai pengharapan terhadap karier yang dipilihnya dapat memberikan apa yang mereka inginkan ditinjau dari faktor- faktor nilai intrinsik pekerjaan yakni, penghargaan finansial, pengakuan profesional, lingkungan kerja,dan personalitas.

1. PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

          Mendiknas Nomor 179/U/2001 menyebutkan Pendidikan profesi Akuntansi adalah pendidikan tambahan pada pendidikan tinggi setelah program ilmu sarjana ekonomi pada program studi akuntansi. Peran pendidikan akuntansi yang dinyatakan dalam Seminar Nasional Akuntansi adalah (1) menciptakan knowledge workers yang bekerja sama secara sinergis dengan blue-collar workers serta knowledge workers dalam proses penciptaan nilai tambah, (2) tanggap terhadap peran akuntansi yang cenderung multidimensional dan vital pada masa depan, (3) mampu memberi bekal kepada para akuntan agar dapat melaksanakan oversight, insight, dan foresight roles yang akan menjadi makin rumit pada masa depan.

          Pendidikan profesi akuntansi bertujuan menghasilkan lulusan yang menguasai keahlian bidang profesi akuntansi dan memberikan kompensasi keprofesian akuntansi. Lulusan Pendidikan Profesi Akuntansi berhak menyandang gelar profesi akuntan (Benny : 2006). Kemudian mendaftar ke Departemen Keuangan untuk mendapatkan nomor register sehingga terdaftar menjadi akuntan. Dari data di Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementrian Keuangan sebanyak 938 orang yang terdaftar dan memiliki nomor registrasi sebagai profesi akuntan.

2. PENGERTIAN KARIER

         Karier adalah “perkembangan dan kemajuan di kehidupan pekerjaan, jabatan, dan sebagainya. Atau karier adalah pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju”.  Pemilihan karier merupakan suatu cara atau usaha seseorang mengambil satu di antara banyak jabatan atau pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju dan sesuai dengan yang diinginkan.

           Karier bertujuan untuk mencapai posisi di masa yang akan datang dalam pekerjaan setiap individu. Keberhasilan karir tidak lagi diartikan sebagai penghargaan intitusional dengan meningkatnya kedudukan dalam suatu hirarki formal. Kunci keberhasilan karir pada masa yang akan datang lebih dicerminkan dari pengalaman hidup seseorang daripada posisi yang dimilikinya.

 

3. KARIER PROFESI AKUNTANSI

          Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Ciri-ciri profesi (Rizal : 2009) yakni :

  1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahuntahun.
  2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
  3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
  4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
  5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

          Weygant et al. (2011) menyatakan bahwa pada umumnya profesi akuntansi diperlukan pada empat bidang, yaitu public accounting, private accounting, non-for-profit accounting, dan pendidik.

 

 3.1 Akuntan Publik

          Ketentuan mengenai akuntan publik di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik. Setiap akuntan publik wajib menjadi anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), asosiasi profesi yang diakui oleh Pemerintah.

         Mulyadi (2002) berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan berkembangnya berbagai jenis perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum di negara tersebut. Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik adalah pemeriksaan laporan keuangan dan konsultasi dibidang keuangan. Jenis pekerjaan tersebut mencerminkan seorang akuntan yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) akan selalu berhubungan dengan klien, yaitu perusahaan yang meminta jasa pada kantor akuntan publik

        Karier pada profesi akuntan publik relatif lebih jelas. Berikut ini gambaran jenjang karier akuntan publik (Widyasari : 2010) :

  1. Audit Junior, bertugas melaksanakan prosedur audit secara rinci membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Merupakan entry level karier akuntan publik.
  2. Audit Senior, bertugas untuk melaksanakan audit, koordinasi dan bertanggung jawab pada kerja lapangan (field work) untuk mengusahakan efesiensi biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana serta mengarahkan dan mereview pekerjaan auditor junior. Biasanya memerlukan waktu 2 (dua) sampai 5 (lima) tahun untuk ke jenjang ini.
  3. Manajer audit, pengawa audit yang bertugas membantu auditor senior dalam merencanakan program audit dan waktu audit (review atas kertas kerja, laporan audit dan management letter), serta berhubungan dengan klien. Untuk mencapai jenjang ini memerlukan waktu rata-rata 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun masa kerja setelah melalui jenjang auditor senior.
  4. Partner, bertanggung jawab secara keseluruhan mengenai auditing dan terlibat secara signifikan dalam pengambilan keputusan-keputusan audit. Partner merupakan pemilik dari firma sehingga mempunyai tanggung jawab utama dalam menjalankan proses audit dalam melayani kline. Selain itu, partner adalah karier puncak profesi akuntan publik. Masa kerja yang dibutuhkan untuk menjadi partner dalam kantor akuntan adalah 10 (sepuluh) tahun atau lebih masa kerja setelah melalui jenjang manajer audit.

      Sumarna (2002) Bekerja di KAP terdapat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan bekerja di KAP adalah dapat mengetahui aneka macam perusahaan terutama perlakuan auditnya, sering bepergian keluar kota untuk mengaudit klien. Pengalaman di KAP menbuat seorang individu dicari oleh perusahaan karena dianggap telah nmenguasai akuntansi sesuai standar yang berlaku. Kekurangannya bekerja di KAP adalah pekerjaan yang melebihi perusahaan biasa yang mengharuskan lembur.

3.2 Akuntan Perusahaan

          Hansen dan Mowen (2009) mengemukakan pekerjaan akuntansi dalam perusahaan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen berguna untuk menghasilkan informasi khusus bagi pengguna internal seperti manajer dan karyawan yang berfungsi untuk mengidentifikasikan, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasikan, dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam pembuatan, perencanaan, pengendalian dan keputusan. Sedangkan akuntansi keuangan berguna untuk menghasilkan informasi bagi pihak internal maupun eksternal, seperti manajer, karyawan, investor, kreditur, maupun pemerintah yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan yang berhubungan dengan perusahaan secara keseluruhan.

         Akuntansi perusahaan  dirancang untuk mengelolah dan menyajikan yang diperlukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan sebagai berikut : (Prawironegoro : 2008)

  1. Merumuskan keseluruhan strategi dan rencana jangka panjang
  2. Membuat keputusan pengalokasian sumber daya untuk menghasilkan produk dan menciptakan kupuasaan customer
  3. Merencanakan dan mengendalikan biaya oprasional, dengan memberikan focus pada analisis penghasilan, biaya, aktiva, dan utang berdasarkan segmen, investasi, dan aspek lain dalam wilayah tanggung jawab manajemen.
  4. Mengukur dan mengevaluasi kinerja personal yang terlibat dalam organisasi dengan menggunakan ukuran kinerja keuangan dan kinerja non keuangan.”

         Darsono Prawironegoro (2008:2)  “Akuntansi perusahaan  dirancang untuk mengelolah dan menyajikan yang diperlukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan, sebagai berikut :

  1. Merumuskan keseluruhan strategi dan rencana jangka panjang
  2. Membuat keputusan pengalokasian sumber daya untuk menghasilkan produk dan menciptakan kupuasaan customer
  3. Merencanakan dan mengendalikan biaya oprasional, dengan memberikan focus pada analisis penghasilan, biaya, aktiva, dan utang berdasarkan segmen, investasi, dan aspek lain dalam wilayah tanggung jawab manajemen.
  4. Mengukur dan mengevaluasi kinerja personal yang terlibat dalam organisasi dengan menggunakan ukuran kinerja keuangan dan kinerja non keuangan.”

         Adapun keunggulan dan kekurangan dari akuntan perusahaan. Keunggulannya dibanding posisi lain dalam perusahaan dapat berupa peningkatan karier yang cepat dan susah untuk diberhentikan dari perusahaan. Tetapi untuk mendapatkan pekerjaan ini biasanya sulit karena harus lulus dari serangkaian tes, seperti tes psikologi, tes materi akuntansi, tes wawancara, dan tes kesehatan. Kekurangannya adalah cenderung merasa jenuh bekerja karena tantangan yang stabil, indoor dan perkembangan dunia akunting yang tidak begitu cepat (Sumarna : 2002).

3.3 Akuntan Pendidik

       Akuntan pendidik dalam melaksanakan tugasnya berpedoman pada Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengajaran merupakan tugas utama seorang pendidik, pengajaran dilakukan dengan tatap muka di kelas, proses pengajaran diharapkan menjadi sarana untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan pendidikan pada anak didiknya. Penelitian juga merupakan tugas dari seorang akuntan pendidik, sehingga disamping melakukan pekerjaan mengajar, seorang pendidik juga dituntut untuk mampu melakukan penelitian sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dalam praktek yang sesungguhnya. Selain dua tugas tersebut seorang akuntan pendidik juga harus mampu melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, hal tersebut dimaksudkan agar seorang pendidik tidak hanya mampu berkomunikasi dengan bidang ilmunya sendiri, namun juga harus mampu berkomuniksai dengan masyarakat luas, yang merupakan pihak yang tidak mungkin tidak mengenal disiplin ilmu si pendidik (Setiyani : 2005).

         Mahasiswa yang memilih berprofesi sebagai akuntan publik lebih mengharapkan pekerjaan yang keamanan kerjanya terjamin dan sifat pekerjaan yang rutin sehingga tidak mengalami kesulitan untuk melakukan sehari-hari (Rahayu : 2003).

3.4 Akuntan Pemerintah

       Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada badan pemerintah. Badan-badan pemerintah disini adalah seperti departemen-departemen, BPKP, BPK, dan Dirjen pajak Pada lembaga-lembaga tersebut akuntan dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan keahlian yang diperoleh dari lembaga pendidikan (Soemarso,2004). Lembaga-lembaga pemerintah tersebut biasanya sudah diatur dengan undang-undang, sehingga tugas dan kewajiban akuntan pemerintah disesuaikan dengan undang-undang yang berlaku. Sarjana akuntansi yang berprofesi sebagai akuntan pemerintah mempunyai status pegawai negeri (Setiyani, 2005).

          Keunggulan berprofesi sebagai akuntan pemerintah adalah dana pensiun yang cenderung lebih terjamin dibandingkan akuntan perusahaan dan akuntan publik. Tetapi kelemahan dalam profesi ini yaitu rutinitas yang bahkan lebih tinggi dari akuntan perusahaan.

4.    FAKTOR – FAKTOR PEMILIHAN KARIER

4.1    Penghargaan Finansial

          Gaji atau penghargaan finansial adalah hasil yang diperoleh sebagai kontraprestasi yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan keputusan kepada karyawan Setiyani (2005).

         Saat ini penghargaan finansial masih dipandang sebagai alat ukur untuk menilai pertimbangan jasa yang telah diberikan karyawan sebagai imbalan yang telah diperolehnya. Seseorang yang bekerja tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi saja, akan tetapi alasan kuat yang mendasar sampai sekarang mengapa seseorang bekerja hanya untuk alasan faktor ekonomi. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisiologi. Penghargaan finansial adalah sebuah penghargaan yang berwujud finansial. Elemen yang termasuk dalam penghargaan finansial adalah penghargaan finansial awal,dana pensiun, dan potensi kenaikan penghargaan finansial (Setiyani : 2005).

      Mahasiswa yang memilih profesi akuntan perusahaan dan akuntan pemerintah berpendapat bahwa dengan profesi tersebut, penghargaan finansial awal mereka dibandingkan dengan profesi akuntan pendidik dan profesi akuntan publik. Mahasiswa yang memilih profesi akuntan pemerintah dan akuntan pendidik lebih mengharapkan dana pensiun dibandingkan dengan mahasiswa yang memilih profesi akuntan perusahaan dan akuntan publik (Rahayu : 2003).

4.2    Pengakuan Profesional

       Pengakuan profesional meliputi hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan terhadap prestasi. Pengakuan profesioanl ini dapat juga dikategorikan sebagai penghargaan yang tidak berwujud finansial. Pengakuan profesional dipertimbangkan oleh mahasiswa yang memilih profesi akuntan publik. Hal ini berarti bahwa memilih profesi, tidak hanya bertujuan mencari pengharapan finansial, tetapi juga ada keinginan untuk pengakuan berprestasi dan mengembangkan diri. Elemen-elemen dalam pengakuan profesi meliputi : kesempatan untuk berkembang, pengakuan berprestasi, kesempatan untuk naik pangkat, menghargai keahlian tertentu.

           Rahayu et. Al (2003) mengungkapkan bahwa mahasiswa yang memilih profesi akuntan publik dan akuntan perusahaan menganggap bahwa profesi yang mereka pilih akan memberikan banyak kesempatan untuk berkembang. Sedangkan mahasiswa yang memilih profesi akuntan pendidik menganggap bahwa profesi yang mereka pilih memberikan kesempatan berkembang yang lebih rendah jika dibandingkan dengan profesi akuntan pemerintah. Mahasiswa yang memilih profesi akuntan perusahaan menganggap bahwa pengakuan prestasi atas profesi mereka lebih tinggi dibanding dengan profesi yang lain.

 

4.3    Lingkungan Kerja

        Lingkungan kerja merupakan suasana kerja (rutin, atraktif, sering lembur), tingkat persaingan antara karyawan dan tekanan kerja. Menurut Rahayu (2003) menyatakan bahwa faktor lingkungan kerja tidak dipertimbangkan mahasiswa dalam memilih suatu karir. Dalam hal ini, lingkungan kerja yang akan diuji meliputi tujuh pernyataan mengenai sifat pekerjaan (rutin, atraktif, sering lembur, menyenangkan, mudah diselesaikan), tingkat persaingan antar karyawan dan tekanan kerja.

 

4.4    Personalitas

         Erick Wicaksono (2011) mengatakan bahwa, personalitas merupakan salah satu determinan yang potensial terhadap perilaku individu saat berhadapan dengan situasi /kondisi tertentu. Hal ini membuktikan bahwa personalitas berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Personalitas menunjukkan bagaimana mengendalikan atau mencerminkan kepribadian seseorang dalam bekerja. Djuwita dalam Mazli dkk (2006), mengatakan bahwa faktor penyebab seseorang kehilangan pekerjaan antara lain karena ketidaksesuaian kepribadian mereka dengan pekerjaan. (DILLA)

 

B. PENGEMBANGAN HIPOTESA

1 . PENGHARGAAN FINANSIAL

            Penghargaan Finansial merupakan pertimbangan pertama seorang mahasiswa dalam pemilihan karier yang akan dipilih sebagai akuntan. Pertimbangan dengan adanya kemampuan yang mereka miliki dalam melakukan pekerjaan, beratnya pekerjaan yang dilakukan, pertimbangan pengeluaran dan pendapatan yang diperoleh atau tujuan yang dimiliki merupakan alasan mahasiswa selektif dalam pemilihan karier sebagai akuntan.

        Rahayu (2003) menunjukan bahwa mahasiswa yang memilih karir sebagai akuntan perusahaan dan akuntan pemerintah menganggap dengan karir tersebut gaji awal mereka tinggi, dibandingkan dengan mahasiswa yang memilih karir sebagai akuntan publik dan akuntan pendidik yang menganggap bahwa gaji awal dalam karir mereka tidak begitu tinggi.

H1 : Terdapat perbedaan pandangan mahasiswa akuntansi yang memilih karir sebagai akuntan publik dengan karir sebagai akuntan perusahaan, akuntan pemerintah  dan akuntan pendidik ditinjau dari faktor penghargaan finansial.

 

2. PENGAKUAN PROFESIONAL

           Pengakuan profesional mencakup sesuatu yang berhubungan dengan pengakuan terhadap prestasi dan keberhasilan dari suatu pekerjaan. Dengan diakuinya prestasi kerja akan dapat meningkatkan kualitas pekerjaan yang dihasilkan dan dapat meningkatkan motivasi dalam pencapaian karir yang lebih baik. Faktor ini dapat meningkatkan dan menumbuhkan perkembangan perusahaan atau individu sendiri. Dalam hal ini berarti adanya perbedaan pandangan antar sesama mahasiswa dalam menyikapi faktor pengakuan profesional sebagai faktor yang mempengaruhi pemilihan karier sebagai seorang akuntan.

H2 : Terdapat perbedaan persepsi mahasiswa akuntansi dalam memilih karir antara sebagai akuntan publik, akuntan perusahaan, akuntan pemerintah atau akuntan pendidik ditinjau dari faktor pengakuan profesional.

 

 

3. LINGKUNGAN KERJA

       Lingkungan kerja merupakan suasana kerja yang meliputi sifat kerja (rutin, atraktif dan sering lembur), tingkat persaingan antar karyawan dan tekanan kerja merupakan faktor dari lingkungan pekerjaan. Karakter yang keras dan komit dibutuhkan oleh seorang akuntan dalam menghadapi lingkungan pekerjaan.

        Deadline waktu yang diberikan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan mendorong akuntan untuk dapat menguasai lingkungan kerjanya agar nyaman dan tenang dalam bekerja. Lingkungan kerja mendorong seseorang untuk menjadi pribadi yang berbeda dari lingkungan sebelum memperoleh pekerjaan. Seorang pekerja dituntut untuk dapat beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan kerja, agar dapat mencapai target kerja yang diwajibkan. Karena adanya perbedangan pandangan atau kondisi lingkungan kerja yang berbeda yang diinginkan mahasiswa maka dari itu lingkungan kerja merupakan faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan karier sebagai akuntan

H3 : Terdapat perbedaan persepsi mahasiswa akuntansi dalam memilih karir antara sebagai akuntan publik, akuntan perusahaan, akuntan pemerintah atau akuntan pendidik ditinjau dari faktor lingkungan kerja.

 

4. PERSONALITAS

         Personalitas berarti karakteristik psikologi dari dalam yang menentukan dan merefleksikan bagaimana seseorang merespon lingkungannya. Tak ada dua orang yang memiliki kesamaan personalitas (Mutmainah, 2006). Personalitas berpengaruh terhadap perilaku individu tersebut. Karena perilaku individu yang berbeda maka pandangan yang dimiliki pun berbed, dalam hal ini berarti adanya perbedaan pandangan mahasiswa dari faktor personalitas sebagai faktor yang mempengaruhi pemilihan profesi sebagai seorang akuntan.

H4 : Terdapat perbedaan pandangan mahasiswa akuntansi yang memilih karir sebagai akuntan publik dengan karir sebagai akuntan perusahaan, akuntan pemerintah dan akuntan pendidik dari faktor personalitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s